Bismillah..
Sayyidina Ali radhiallahu ‘anhu berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad,
يا كميل بن زياد القلوب أوعية
فخيرها أوعاها للعلم احفظ ما أقول لك الناس ثلاثة فعالم رباني ومتعلم على
سبيل نجاة وهمج رعاع اتباع كل ناعق يميلون مع كل ريح لم يستضيئوا بنور
العلم ولم يلجئوا إلى ركن وثيق
“Wahai Kumail bin Ziyad. Hati manusia itu bagaikan bejana
(wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling
banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan kusampaikan
kepadamu. Manusia itu terdiri dari 3 kategori, seorang yang berilmu dan
mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah
yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan
gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh
karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena
senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup. Kehidupannya tidak
dinaungi oleh cahaya ilmu dan tidak berada pada posisi yang kuat.” (
Hilyah al-Auliya 1/70-80).
Hati yang Terbaik
Wasiat khalifah ‘Ali bin Abi Thalib
radliallahu ‘anhu ini, adalah suatu wasiat yang terkenal di kalangan para ulama yang menjelaskan kategori manusia.
Setelah beliau menjelaskan bahwa hati manusia itu adalah bagaikan
wadah, maka hati yang terbaik adalah hati yang dipenuhi dengan ilmu.
Hati yang dipenuhi oleh pemahaman terhadap Al Qur-an dan sunnah
rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka yang memahami Al Qur-an dan sunnah rasul-Nya adalah orang-orang yang dikehendaki oleh Allah
ta’ala untuk memperoleh kebaikan sebagaimana sabda nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Pada sabda nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi,
rasulullah menyebutkan lafadz خيرا yang berarti kebaikan dalam bentuk
nakirah (indefinitif) yang didahului oleh kalimat bersyarat sehingga
menunjukkan makna yang umum dan luas. Seakan-akan nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
hendak mengatakan, jika Allah menghendaki seluruh kebaikan diberikan
kepada seorang, maka Allah hanya akan memberikannya kepada para
hamba-Nya yang Dia pahamkan terhadap agama-Nya. Karena seluruh kebaikan
hanya Allah berikan bagi orang-orang yang mau mempelajari dan mengkaji
agama Allah
ta’ala.
Dari hadits di atas juga, kita dapat memahami bahwasanya mereka yang enggan mempelajari agama Allah
ta’a a, maka pada hakikatnya mereka tidak memperoleh kebaikan.
Oleh karenanya, imam Ibnu Hajr Al Asqalani Asy Syafi’i tatkala menjelaskan hadits di atas, beliau mengatakan,
مَفْهُوم الْحَدِيث أَنَّ
مَنْ لَمْ يَتَفَقَّه فِي الدِّين – أَيْ : يَتَعَلَّم قَوَاعِد
الْإِسْلَام وَمَا يَتَّصِل بِهَا مِنْ الْفُرُوع – فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْر
“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak
memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip
fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang
terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan”
(
Fathul Baari 1/165).
Sang Alim Rabbani
Kemudian khalifah ’Ali bin Abi Thalib
radliallahu ‘anhu
menerangkan bahwasanya manusia terbagi menjadi tiga kategori. Kategori
pertama adalah عالم رباني seorang yang berilmu, mengajarkan,
mendakwahkan dan menyebarkan ilmunya. Karena seorang alim rabbani adalah
sebagaimana yang diterangkan oleh imam Mujahid rahimahullah
ta’ala,
الرباني الذي يربي الناس بصغار العلم قبل كباره
”Ar Rabbani adalah seorang yang mengajari manusia hal-hal yang
mendasar sebelum mengajari mereka dengan berbagai hal yang rumit.” (Tafsir Al Qurthubi 4/119).
Maka, seorang rabbani adalah seorang yang mengajarkan ilmunya. Maka
dialah seorang yang selayaknya kita ikuti. Dialah seorang yang berilmu
dengan ilmu yang benar yaitu yang berupa Al Qur-an dan sunnah
rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena ilmu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh imam Asy Syafi’i
rahimahullah
كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مُشْغِلَةٌ إِلاَّ الْحَدِيْثَ وَ عِلْمَ الْفِقْهِ قِي الدِّيْنِ
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا وَ مَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَسُ الشَّيَاطِيْنَ
Setiap ilmu selain Al Qur-an akan menyibukkan, kecuali ilmu hadits dan fiqih
Ilmu adalah sesuatu yang di dalamnya terdapat ungkapan ‘Haddatsana’ (yaitu ilmu yang berdasar kepada wahyu)
Adapun ilmu selainnya, hal itu hanyalah bisikan syaithan semata (
Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).
Namun yang patut dicamkan oleh mereka yang berilmu adalah ilmu yang
mereka ketahui dan ajarkan kepada manusia selamanya tidak akan
bermanfaat hingga mereka mengamalkannya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مثل العالم الذي يعلم الناس الخير و ينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس و يحرق نفسه
“Permisalan seorang alim yang mengajari kebaikan kepada manusia
namun melupakan dirinya (karena tidak mengamalkan ilmunya) adalah
seperti lilin yang menerangi manusia namun justru membakar dirinya
sendiri.” (
Al Jami’ush Shaghir wa Ziyadatuhu nomor 10770 dengan sanad yang shahih).
Penuntut Ilmu di Atas Jalan Keselamatan
Jika kita bukan termasuk kategori yang pertama, maka hendaknya kita
menjadi orang yang termasuk dalam kategori kedua, kategori yang beliau
katakan sebagai متعلم على سبيل نجاة yaitu seorang yang mau belajar dan
orang inilah orang yang berada di atas jalan keselamatan.
Maka benarlah apa yang beliau katakan, karena sesungguhnya seorang
yang terus mau belajar adalah orang yang sedang meniti jalan menuju
surga sebagaimana yang disabdakan oleh nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor 2699).
Maka seorang yang selalu belajar dan belajar, maka dialah على سبيل نجاة orang yang berada di atas jalan keselamatan.
Hamajun Ra-a’ (Gembel yang Tidak Berguna)
Adapun orang yang selain kedua golongan ini. Maka hal ini adalah sesuatu yang memalukan dan sangat berbahaya.
Kata beliau mereka ini adalah orang-orang yang gembel dan tidak
begitu berguna. Mereka ini adalah orang-orang yang memiliki sifat
mengikuti setiap orang yang berkomentar dan mengikuti kemana arah angin
bertiup.
Artinya, siapa saja yang memberikan komentar kepadanya, maka dia akan
mengikutinya tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu. Orang ini tidak
memiliki pendirian, ketegasan sikap karena ia tidak memiliki ilmu. Maka
dia adalah seorang yang bingung.
Maka beliau katakan bahwa orang ini layaknya seperti pohon yang
mengikuti kemana arah angin bertiup. Itulah orang-orang yang tidak
menjalani kehidupannya dengan cahaya ilmu, dengan cahaya firman Allah
dan sabda rasul-Nya
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang ini
adalah orang yang tidak berada dalam posisi yang kokoh dan kuat sehingga
ia adalah seorang yang cepat berubah dan tidak memiliki pendirian.
Orang yang mengikuti apa saja yang dikatakan oleh orang yang berada di
sebelah kanan dan kirinya. Maka boleh jadi dan bisa jadi dia celaka
dikarenakan hal tersebut.
Persis seperti kejadian yang terjadi di masa rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada seorang yang terlempar dari untanya, maka kepalanya pun terluka.
Namun pada malam hari, dia bermimpi sehingga dia memasuki pagi hari
dalam kondisi junub. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana bersikap
dikarenakan minimnya ilmu yang dia miliki. Akhirnya dia pun bertanya
kepada orang yang berada di sampng kanan dan di samping kirinya. Apakah
ia harus mandi untuk bersuci atau dia diperbolehkan bertayammum karena
kepalanya terluka.
Ternyata dia bertanya kepada orang yang salah, sehingga dia
memperoleh jawaban yang salah. Pihak yang ditanyai menyarankan bahwa dia
tetap harus mandi karena tidak ada rukhshah (dispensasi) bagi dirinya.
Akhirnya orang ini pun mandi, dan ia pun meninggal. Karena
ketidaktahuannya tentang suatu hal yang mendasar bagi seorang muslim,
yaitu bagaimana cara seorang muslim harus bersuci, kapan dia harus mandi
dan bertayammum, akhirnya … keadaan naas pun menimpanya.
Demikian pula, seorang yang tidak menuntut ilmu agama pada hakekatnya
dia bagaikan jasad yang tidak bernyawa. Hal ini dikarenakan ilmu agama
adalah nutrisi bagi hati yang menentukan keberlangsungan hidup hati
seorang. Seorang yang tidak memahami agamanya, dia layaknya sebuah mayat
meski jasadnya hidup. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i
rahimahullah sampai mengatakan,
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar
Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda
Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat (
Diwan al Imam asy Syafi’i, Dar al Kutub al ’Ilmiyah).
Urgensi Menuntut Ilmu Agama
Wasiat Amir al-Mukminin, Ali
radhiallahu anhu di atas pada
dasarnya menghasung kita sebagai umat Islam untuk mempelajari agama ini
dengan benar, karena diri kita sangatlah butuh akan ilmu agama ini.
Al Imam Ahmad
rahimahullah mengatakan,
الناس محتاجون إلى العلم قبل الخيز و الماء لأن العلم محتاجون إليه الإنسان في كل ساعة و الخبز و الماء في اليوم مرة أو مرتين
“Manusia sangat membutuhkan ilmu melebihi kebutuhan terhadap roti
dan air, karena ilmu dibutuhkan manusia di setiap saat. Sedangkan roti
dan air hanya dibutuhkan manusia sekali atau dua kali” (
Al Adab asy Syar’iyyah 2/44-45).
Faktor yang membuat kita memahami urgensi menuntut ilmu syar’i di
saat ini adalah jika kita mengamati realita keagamaan di sekitar kita.
Jika kita mau mengamati, betapa banyak pada zaman sekarang orang-orang
yang berbicara tentang agama Allah ini tanpa dilandasi dengan ilmu.
Mantan artis yang baru saja berkubang dengan kemaksiatan, kemudian
merubah penampilan sehinga nampak shalih dijadikan ikon keshalihan dan
dijadikan tempat bertanya mengenai permasalahan agama. Seorang yang
tidak pernah mengenyam pendidikan agama secara formal, tidak memiliki
background pendidikan agama, tidak tahu bahasa Arab, tidak menghafal al Qur-an begitupula tidak tahu-menahu mengenai hadits-hadits nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam dimintai pendapatnya dalam permasalahan agama.
Sungguh benar apa yang disabdakan nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, beliau telah mensinyalir hal ini akan terjadi dalam sebuah haditsnya,
سيأتي على الناس سنوات خداعات
يصدق فيها الكاذب ويكذب فيها الصادق ويؤتمن فيها الخائن ويخون فيها الأمين
وينطق فيها الرويبضة . قيل وما الرويبضة ؟ قال : الرجل التافه ؛ يتكلم في
أمر العامة
“Akan datang tahun-tahun yang dipenuhi penipuan. Pada saat itu,
seorang pendusta justru dibenarkan dan seorang yang jujur malah
didustakan. Seorang pengkhianat malah dipercaya dan seorang yang amanah
malah dikhianati. Pada saat itu, ar-ruwaibidhah akan angkat bicara. Para
sahabat bertanya, “Apa ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab,
“Ar-rumwaibidhah adalah seorang yang (pada hakekatnya) dungu, namun
berani bicara mengenai urusan umat.” (
Ash-Shahihah nomor 1887).
Begitupula jika kita menyimak firman Allah
yang mencela
kebodohan seorang terhadap agama-Nya, maka kita akan memahami bahwa
setiap muslim dituntut untuk mengetahui perkara agama. Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ
لا يَعْلَمُونَ (٦)يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ
عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (٧)
“Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya
mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai” (Ar Ruum: 6-7).
Ibnu Katsir
rahimahullah mengatakan,
أي: أكثر الناس ليس لهم علم
إلا بالدنيا وأكسابها وشؤونها وما فيها، فهم حذاق أذكياء في تحصيلها ووجوه
مكاسبها، وهم غافلون عما ينفعهم في الدار الآخرة، كأن أحدهم مُغَفّل لا ذهن
له ولا فكرة
“Maksudnya kebanyakan manusia tidak memiliki pengetahuan
melainkan tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya, juga segala
apa yang di dalamnya. Mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti
berbagai kesibukan dunia, tetapi mereka lalai terhadap urusan akhirat
dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat,
seakan-akan seorang dari mereka lalai, tidak berakal dan tidak pula
memikirkan (perkara akhiratnya)”
Al Hasan Al Bashri
rahimahullah mengatakan,
>والله لَبَلَغَ من أحدهم بدنياه أنه يقلب الدرهم على ظفره، فيخبرك بوزنه، وما يحسن أن يصلي
“Demi Allah, seorang dari mereka akan berhasil menggapai dunia,
dimana ia bisa membalikkan dirham di atas kukunya, lalu dia mampu
memberitahukan anda tentang beratnya. Namun dia tidak becus dalam
mengerjakan shalat”
Dampak dari kebodohan terhadap agama Allah adalah berkurangnya keimanan kepada Allah
subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim yang ‘alim terhadap perkara agama akan mengetahui berbagai perkara yang dapat mengundang keridlaan Allah
subhanahu wa ta’ala
terhadap dirinya, dan begitupula ia akan mengetahui berbagai perkara
yang dapat mengundang kemurkaan Allah sehingga ia dapat menjauhinya.
Berbeda halnya dengan seorang muslim yang tidak tahu perkara agama,
karena ketidaktahuan dirinya dan sedikitnya ilmu agama yang ia miliki
terkadang ia menerjang kemaksiatan, mendahulukan perkara-perkara yang
tidak penting, atau rela menjual agamanya demi mendapatkan dunia. Dia
tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga terkadang
orang yang jahil terhadap agama, akan menyembah Allah sekenanya saja, ia
tidak terlalu mempedulikan apakah ibadah yang ia lakukan telah diterima
oleh Allah.
Terkadang, dia beranggapan bahwa ibadahnya telah diterima, sehingga
dirinya sangat minim untuk menginstropeksi berbagai amalan yang ia
lakukan dan mengukurnya dengan barometer syari’at, dengan barometer yang
ditetapkan oleh Allah
ta’ala. Hal ini dikarenakan barometer yang ada pada dirinya telah terbalik.
Berdasarkan hal ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu agama
merupakan sumber dari setiap kebaikan, sedangkan kebodohan terhadap
agama ini merupakan sumber dari setiap keburukan.
Jika kita menyimak ayat-ayat Al Qur-an, maka kita pun akan menemukan
bahwa berbagai bentuk kesyirikan –yang notabene adalah dosa terbesar-
dan kemaksiatan bersumber dari ketidaktahuan seorang terhadap perkara
agamanya. Diantaranya adalah firman Allah
ta’ala,
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي
إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى
أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ
آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (١٣٨)
“Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah
sesembahan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan
(berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang
tidak mengetahui (sifat-sifat Rabb)” (Al A’raaf: 138).
وَلُوطًا إِذْ قَالَ
لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنْتُمْ تُبْصِرُونَ
(٥٤)أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ
بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ (٥٥)
“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya:
“Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu
memperlihatkan(nya)?” “Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk
(memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah
kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)” (An Naml 54-55).
Coba anda perhatikan kedua ayat di atas, bukankah permintaan Bani Israil kepada nabi Musa
‘alaihis salam
agar dibuatkan sesembahan (berhala) dan tindakan homoseks kaum nabi
Luth berangkat dari ketidaktahuan mereka terhadap agama? Oleh karenanya,
nabi Musa dan Luth menyatakan bahwa mereka adalah kaum yang jahil!
Oleh karena itu, setiap orang wajib untuk menuntut ilmu agama. Siapa
pun dia, apa pun profesinya wajib menuntut ilmu agama untuk menghadapi
dan melepaskan diri dari berbagai fitnah yang akan dia temui di dunia.
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya dan umat beliau yang berjalan di atas sunnah beliau.
Penulis:
Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel
www.muslim.or.id
Beruntunglah kau yg ada disana,
Mengenal kajian Sunnah Sejak dalam buaian Ummah dan Abah mu..
Karena disini, kita banyak yg tak seberuntung itu, banyak dosa dan
maksiat yg telah kami lakukan, kalaupun toh taubat, tapi taubatnya
taubat sambal, sekarang kapok, besoknya makan lagi, karna rasanya yg
enak dan menggoda hati, namun, ketika perut terasa sakit, baru ingat
lagi, kalau sakit itu tidak enak..
Beruntung pulalah bagi engkau yg ada disana, mendapatkan hidayah dikala usia remaja, dewasa atau bahkan tua, beruntunglah..
~Karna cinta-Nya padamu itu akan nampak, sejauh mana kau bisa memahami
agama, dan jika kebenaran itu kau dapatkan, bersyukurlah!~
~Karena hidayah itu mahal, dan menjaga hidayah, lebih sulit..~
# Manyuridillaahu bihi khairan
# Yufaqqih hu fiddiin..